Tahun 1980 dimana orang di desa ini sangat dinamis,tak terpikir untuk punya motor,mobil atau rumah seperti istana.Di pagi hari sawah ladang rame dengan orang bekerja mereka menikmati pekerjaan mereka bertani,mereka senang memanen cengkeh yang waktu itu harganya cukup tinggi.Mereka juga senang panen padi di sawah da palawija diladang.Agama sangat mereka hormati langgar langgar penuh dengan orang belajar ngaji sehabis magrib.walaupun susah mereka sabar tak mengeluh.
Pergeseran pola pikir,ekonomi dan kebudayaan mulai terasa ketika harga cengkeh turun drastis lalu di sambung dengan adanya siaran TV swasta yang bisa diakses dengan mudah,dengan turunya harga cengkeh meruntuhkan ekonomi yang berimbas ke perubahan pola pikir dimana orang tidak semangat untuk bertani karena harga jual tidak stabil.Biaya oprasional tidak tertutup oleh hasil penjualan cengkeh sehingga mereka memilih menebang pohon-pohon cengkeh.Parahnya lagi di siang hari orang lebih suka nonton tv yang menjamur setelah reformasi.Orang mulai teracuni anak dengan acara tv yng cendrung menonjolkan kemewahan dunia, anak SMP pada berani berantem sama bapaknya gara-gara minta dibeliin motor,HP,dll.
Akhirnya biaya hidup desa sama dengan biaya di kota dengan begitu terpaksa mayoritas laki-laki mereka merantau ke kota jadi kulibangunan,dagang atau mengundi nasib ke kota sedangkan anak istri mereka tetap di kampung.Tapi lama kelamaan bagi yang mampu dan berhasil dikota mereka membawa keluarganya ke kota dan yang tak berhasil tetap dengan pola merantau dan pulang untuk anak istrinya sebulan atau beberabulan sekali.
Efek dari pergeseran inipun terjadi di kehidupan religius mereka mereka enggan untuk ke mesjid,mereka memilih nonton tv daripada belagar mengaji atau sholat magrib ke mesjid pergaulannyapun mengikuti orang orang barat.
Sabtu, 19 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar